Postingan

Kisah Singkat dari Borneo

Gambar
Setelah sekian lama meninggalkan tanah keraton Yogyakarta, sepertinya aku rindu menulis. Menulis kisahku satu bulan berada di pulau sebrang, pulau tanah merah Borneo. Keberangkatanku ke tanah Borneo, tepatnya di Ketapang, bukan karena alasan tak jelas. Aku kesana, bersama seratus sekian teman mahasiswa, pergi untuk mengabdi pada masyarakat di Borneo selama satu bulan. Berawal dari mengarungi lautan selama 22 jam, aku mulai mengenali siapa saja teman-temanku ini. Sejak menyadari, hidup hari itu, tak akan menemukan sinyal, kecanggungan mengenal lebih dulu sepertinya hilang. Selama 22 jam, kami, aku lebih tepatnya, menjadi lebih srawung, memperkenalkan diri ke teman lintas fakultas. Candr, Cipta, aku sebelum berangkat ke Borneo suasana di kapal menanti daratan Tujuan kami adalah Ketapang. Namun, kapal yang membawa kami berlabuh di Kumai, Kalimantan Tengah. Selanjutnya, kami harus menempuh perjalanan darat dengan bus trans-Kalimantan. Jangan membayangkan bus ini, a...

Dialah gadis, yang tak percaya pada banyak hal

Dialah seorang gadis yang meminta tak semudah menengadahkan tangan. Dialah seorang gadis muda yang meminta kebahagiaan bukan dengan doa tapi sebuah usaha. Dialah seorang gadis muda yang tidak mengenal kemudahan dalam hidup. Namanya A, anak pertama dari dua bersaudara. Lahir dalam lingkungan yang biasa. Orang tuanya berpisah belasan tahun lalu. Namun, satu tahun yang lalu ayahnya meninggal setelah A memberi harapan pada ayahnya untuk datang di hari wisudanya. Perjalanan hidupnya terlalu mustahil untuk mendapatkan kemudahan. Ia percaya tak pernah ada kemudahan yang ditawarkan oleh hidup. Menjadi gadis yang hidupnya harus sempurna menjadi bebannya saat ini. Gadis muda yang dituntut harus indah, membuat banyak lutut pria tak kuasa menopang badannya sendiri. Gadis muda yang dituntut cerdas supaya tak dianggap cantik tanpa otak. Gadis muda yang tak dominan supaya laki-laki merasa tidak direndahkan. Hidupnya keras, sehingga tidak lagi percaya pada kisah romantis gadis kelas bawah...

Nikmati, tanpa ampun

Mari kita bertemu berpagutan dalam rasa jemu beradu dalam nafsumu dan nafsuku biarkan daging kita dijamu oleh nikmat yang kita cipta tanpa ragu karena semua penuh tanda tanya akan rasamu akan rasaku hanya satu yang tanpa tanya, nafsu kita yang selalu ingin jumpa mari kita bertemu, beradu mengaduh saling menikmati tanpa ampun sampai nanti, saat rindu kembali, ku nanti dikau tiap senja ketujuh

Pahamlah, Aku Ingin Kamu

Mengertilah bahwa kita sudah bukan lagi anak-anak Kamu bukan lagi insan pengambil resiko besar tanpa pikir panjang Aku bukan lagi yang mengagumi hanya karena pandang mata Mengertilah bahwa tak selamanya kau hidup dalam kekaguman perempuan Dan, mengertilah bagaimana rasaku padamu laki-laki tampan Kalau kau paham selalu ada ruang yang kau abaikan Disitu rasaku terletak. Telah bermasa-masa aku lupa pusakamu, wajah dan mata Harta yang membuat tiap perempuan mungkin terpukau lama Pahamlah, aku sedang mencoba menutup angan dengan realita Bersamamu sudah ada yang menggantungkan harapan karena sudah ada kepastian Pasti bersamamu, pasti dapat menyentuhmu, pasti dapat yang ia mau dari kamu Sadarlah, ketidaktahuanmu atau keangkuhanmu telah membuatku berharap sekaligus menyakitiku Kamu membuka celah untukku menemukanmu  Dan kau memang kutemukan dalam pikiran liarmu Kamu merasa bisa mendapatkan apapun Cinta dan nafsu Kau berlantun seks adalah seni yang nikmat, b...

Ada Kalanya...

Ada kalanya kau harus duduk tanpa harapan Sekedar menatap kosong berpangku pada tanah Bukan kau tak berkawan, Kau hanya tak merasa mereka kawan. Bukan kau tak merasa, Kau hanya tak percaya. Bukan kau tak percaya, Mereka yang tak pernah melihat kau lemah. Ada kalanya kau tak mau lagi bercerita selain kepada angin senja Sebab, hanya angin senja yang bisa membawa ceritamu dalam senyap.

Beauty is the product of media, Bro!

you guys, it'swhat i've been thinking all the time.. Kalau boleh menyesali, hal yang paling aku sesali adalah aku yang sekarang. Like, reaaly, menjadi seorang perempuan adalah hal yang paling sulit menurutku. Setiap hari, dua telinga yang aku punya hanya untuk mendengar komentar orang tentang penampilan fisik. Kamu akan dikomentari kalau kamu gendut. Kalau kamu punya lipatan diperut, tumpukan lemak di paha dan pipi. Kamu akan dikomentari kalau kulitmu hitam, ada luka, dan keriput. Kamu akan dikomentari kalau rambutmu gak bagus, gak lembut. Dan semua komentar itu selalu aku terima. Aku gendut. Perutku buncit. Kulitku hitam. Banyak luka. Mataku sipit. Pipiku tembem. Pahaku besar. Lenganku besar. Kalau definisi cantik saat ini adalah putih langsing, im not. Kalau definisi itu yang membuat para lelaki melirik, i dont have. Kalau definisi itu yang membuat orang kagum padamu, aku mungkin tidak dalam kriterianya. If you guys, tell me to love my self, look into you. Are you...

As a 2nd Winner of Lensa Comminfest 2016

Gambar
Tahun 2015 lalu, saya didapuk menjadi panitia Communication Interest Festival (Comminfest). Lebih tepatnya menjadi koordinator divisi marketing and communication. Kurang lebih tugas saya mencai sponsor untuk membiayai kegiatan tahunan ini. Tahun ini, 2016, saya beralih profesi dari panitia menjadi peserta Comminfest 2016. Saya mengikuti salah satu mata lomba Lensa, dengan tema Dont Be Blind. Mari saya ceritakan, bagaimana kisah ini menghantarkan saya menjadi salah satu peserta. Berawal pada suatu malam, di lantai 4 kampus FISIP UAJY. Setelah selesai rapat Call For Research Competition (CFRC), saya dan Advent harus berbincang sebentar. Selesai perbincangan kami, Ape menyusul. Mereka berdua (Advent dan Ape) adalah finalis Pekan Komunikasi UI. Salah satu ajang bergengsi bagi para insan FISIPOL di Indonesia (bisa dibilang begitu). Singkat cerita, kami bermaksud mengikuti lomba Comminfest dengan motif yang berbeda-beda. Saya, ingin mendapatkan penghasilan karena sadar tahun ini saya t...