Postingan

Filipina yang Indonesia, dan China yang tidak terlalu China

Are you from Filippina? No, im indonesian Pertanyaan ini selalu muncul saat bertemu dengan supir taxi atau grabcar yang aku gunakan untuk mengelilingi Singapore. Setelah ditanya demikian, aku langsung tertawa dan buru-buru menjawab "no, ..." dan macam pembelaan seperti "im from Indonesia" atau "is my face look like Filippine ?" Respon mereka pun berbeda, ada yang langsung memahami dan meminta maaf, ada juga yang menawar "aaa so you are Indonesian Chinese?..." diikuti dengan bahasa mandarin mereka yang fasih. Lagi-lagi aku harus terdiam, dan meyakinkan mereka "ya, but i cannot speak mandarin, can lah but a little bit like lai means come here right?" diikuti tawa bangga dan sedikit geli. Pertanyaan selanjutnya, mereka heran kenapa aku tidak bisa menggunakan bahasa mandarin. Aku pun heran. Kenapa ya? Pertama, karena penasaran dicap sebagai orang filipina, aku langsung berselancar di internet. Akhirnya, dari beberapa ...

Lha kan kamu yang bilang

Kamu bilang aku liar Kamu juga bilang aku tak pantas menjadi liar karena wujudku. Terserah aku to, duniaku tak terbatas pada fisik. Bahkan kadang aku birahi pada isi otak. Kalau kamu membatasi diri pada yang berwujud, Itu juga terserah kamu. Kalau kamu anggap aku aneh, Mungkin kamu adalah pemilik dunia  Yang serba biasanya. Lha aku gak mau jadi biasa.

Cerita tentang si Ibu 3 Bulan

Dia adalah sebuah ibu, tempat semua orang mengadu nasibnya. Bukan, bukan ibu kandung. Ini adalah ibu kota sebuah negara berkembang tempat aku dan kamu dilahirkan. Ya, ini tentang Jakarta si megapolitan yang selalu panas dan tersorot. Tidak pernah terbayangkan olehku, seorang gadis dari tanah keraton singgah di Jakarta, kota yang menawarkan hingar bingar kemewahan. Terhitung, hanya enam kali aku sempat mengunjungi Jakarta selama-dua-puluh-satu-tahun hidup. Ini kali yang ketujuh, dan terlama – tiga bulan. Bukan dengan maksud memenuhi kota ini, namun ada pengalaman yang harus kutemui setelah janjian sejak bulan November tahun lalu (re: November 2016) Untungnya, aku tidak harus sendirian merasa asing menghadapi si Ibu Kota. Ada si teman seperjuangan, si teman mengeluh lelah setiap malam Elisabeth Novita. Ada juga si teman menikmati sudut gedung-gedung raksasa yang penuh merk di Jakarta, Imel, Dia, Sara. Ada juga si teman yang sama-sama mengeluh betap kumuhnya pemukiman padat yang seri...

Surat untukmu

Untuk kamu, Yang membuatku percaya diri Untuk kamu, Yang menawarkan kenyamanan Untuk kamu, Yang lebih memilih menerimaku saat yang lain menolak Untuk kamu, Yang selalu menawarkan kehangatan Untuk kamu, Yang dengan murah hati membuka tangan supaya bisa ku peluk Untuk kamu, Yang selalu menawarkan buncah kesenangan Untuk kamu, Yang memilih tertawa saat diganggu  Untuk kamu, Yang senang berdiskusi  Untuk kamu, Yang memilih berkarya tanpa unjuk diri Untuk kamu, Yang dikepung gelap setiap hari Untuk kamu, Untuk kamu, Kamu, Lebih dari yang tertulis.

Jangan jijik

lalu kamu gemar mengejek katamu nada manjaku lucu ah, aku yakin kamu hanya nyinyir kemudian, kamu berlutut membersihkan alas kakiku sepertinya kamu tahu aku malas kepayahan juga untuk berjalan ya, kamu juga memintaku hati-hati kamu paham betul aku bersemangat lupa lihat keadaan kemudian kamu tahu aku manja, kamu bawakan aku garam supaya ada rasa katamu kamu sepertinya takut aku jatuh sebab tiba-tiba ada tanganmu di punggungku ah aku ingin mengenangmu lewat tulisan ini. maaf kalau menjijikkan.

Monolog Kacau

Saat jarum jam terus berputar dan kaki-kaki terus melangkah Saat angin dan ombak terus bekerja mendorong kapal sampai pelabuhannya Ada dua mata yang tak pernah peduli Saat mulut terus berkata, dan siklus terus berputar Ada sepasang telinga yang tak mau mendengar Katanya, dia kasian pada nurani yang ribut dengan hiruk pikuk Tapi begitulah, ada lubang Kebocoran yang menarik untuk diintip Entah simpul apa yang menyatukan Telinga mulai hirau sayup Mata melirik Ada yang menarik.  Semacam ingin disentuh, dikecap.  Seperti minta diperhatikan, padahal tidak.  Dia hanya objek ambisi Kemudian minta dibungkus indah Minta diberi nama kasih Kasih yang membela Padahal dia obsesi Sekarang stagnansi jadi lebih indah Jakarta, 9 April 2017

Kisah Singkat dari Borneo

Gambar
Setelah sekian lama meninggalkan tanah keraton Yogyakarta, sepertinya aku rindu menulis. Menulis kisahku satu bulan berada di pulau sebrang, pulau tanah merah Borneo. Keberangkatanku ke tanah Borneo, tepatnya di Ketapang, bukan karena alasan tak jelas. Aku kesana, bersama seratus sekian teman mahasiswa, pergi untuk mengabdi pada masyarakat di Borneo selama satu bulan. Berawal dari mengarungi lautan selama 22 jam, aku mulai mengenali siapa saja teman-temanku ini. Sejak menyadari, hidup hari itu, tak akan menemukan sinyal, kecanggungan mengenal lebih dulu sepertinya hilang. Selama 22 jam, kami, aku lebih tepatnya, menjadi lebih srawung, memperkenalkan diri ke teman lintas fakultas. Candr, Cipta, aku sebelum berangkat ke Borneo suasana di kapal menanti daratan Tujuan kami adalah Ketapang. Namun, kapal yang membawa kami berlabuh di Kumai, Kalimantan Tengah. Selanjutnya, kami harus menempuh perjalanan darat dengan bus trans-Kalimantan. Jangan membayangkan bus ini, a...