Postingan

Kekasih Hati

Teruntuk kekasih hati, Malam ini udara begitu dingin. Suasana juga tidak mendukung hati dan ragaku. Ibuku mendesak supaya skripsiku cepat selesai, tapi apa daya aku harus mengubah judulku lagi dan lagi dan lagi. Untung, aku bisa bertemu denganmu. Meskipun ada rasa canggung saat melihatmu. Ada rasa takut kamu akan membenci tingkahku yang menghampirimu. Ada buncahan bahagia, bahwa selama ini aku tidak menyadari bentuk perhatianmu pada hal-hal kecil. Kadang aku ingin seperti pasangan lain, bisa pamer kesana-kemari bahwa mereka adalah dua insan yang sedang jatuh cinta. Tapi, kamu selalu meminta untuk tidak demikian. Kamu meminta keintiman hanya milik berdua. Meskipun kita bukan kekasih. Hanya hati kita yang berkekasih. Maka tak ku sebut kamu kekasih, melainkan kekasih hati. Malam ini, kamu menjadi laki-laki biasa yang senang mengucapkan kata-kata manis, meskipun aku geli mendengarnya. Sangat tidak kamu. Tapi cukup menghibur disela-sela desakan skripsi yang baru saja akan aku mulai...

Yuk ke Lombok!

Gambar
Anggota tetap liburan tahun ini. Tunteng dan yah begitulah Liburaaaannn…..!! Akhirnya liburan ke Lombok bisa terealisasi di tahun ini. Tapi karena budget yang sedikit, akhirnya liburan kali ini bisa dibilang ala backpacker-an minim budget. Selama upload foto di Instagram atau di Insta story, banyak banget yang tanya, “Kok bisa sih Ye?”, “budget kamu berapa?”, “Mau dong tips and triknya.” Maka dari itu, tulisan kali ini bakalan lebih ngebahas how to escape to Lombok? Liburan ke Lombok kali ini sebenarnya bisa dibilang dadakan. Kenapa? Karena ‘uangku habis’ untuk biaya KKN di Ketapang, Kalimantan Barat dan KKL di Jakarta. Tapi berhubung ada temen yang gampangan kalo diajak jalan jadi ya dijadikeun saja. Aku memilih tanggal liburan H+sekian Lebaran supaya tidak terganggu dengan umat manusia yang pulang kampung dan memenuhi destinasi wisata. Tapi resikonya kehabisan tiket kereta, dan terlalu mahal jika beralih ke pesawat. Yhaa, tiket Jogja-Lombok satu koma sekian....

Surat untuk Imelda dan Sara

Sudah delapan kali minggu kita habiskan di Jakarta sekedar untuk menikmati konser musik gratis kesukaan kita atau berakhir menikmati mi rebus di burjo. Rasanya sudah puluhan jam kita habiskan untuk berdiskusi, dari hal receh tentang laki-laki dan selera mereka yang payah sampai pilihan hidup yang ideal menurut kita. Kita yang keukeuh ingin menjalani hidup dengan banyak uang tapi tidak tersiksa pekerjaan. Dari memandangi laki-laki yang tampan, hingga bicara politik, bagaimana agama selalu kalah dari politik petinggi. Akhirnya kita kembali ke Jogja. Kita putuskan untuk bertemu di sebuah kedai kopi. Kita bicara lagi tentang hidup. Mendefinisikan seperti apa sebuah kebahagiaan Cukup dengan bisa menikmati kopi setiap malam atau membeli baju baru setiap hari atau mengubah wajah jadi secantik Dian Sastro, atau artis Korea yang sedang digandrungi para pemuda. Kita juga tidak lupa kebiasaan kita, mengomentari perjalanan seseorang. Si A yang akhirnya bersama B Cinta dalam k...

Filipina yang Indonesia, dan China yang tidak terlalu China

Are you from Filippina? No, im indonesian Pertanyaan ini selalu muncul saat bertemu dengan supir taxi atau grabcar yang aku gunakan untuk mengelilingi Singapore. Setelah ditanya demikian, aku langsung tertawa dan buru-buru menjawab "no, ..." dan macam pembelaan seperti "im from Indonesia" atau "is my face look like Filippine ?" Respon mereka pun berbeda, ada yang langsung memahami dan meminta maaf, ada juga yang menawar "aaa so you are Indonesian Chinese?..." diikuti dengan bahasa mandarin mereka yang fasih. Lagi-lagi aku harus terdiam, dan meyakinkan mereka "ya, but i cannot speak mandarin, can lah but a little bit like lai means come here right?" diikuti tawa bangga dan sedikit geli. Pertanyaan selanjutnya, mereka heran kenapa aku tidak bisa menggunakan bahasa mandarin. Aku pun heran. Kenapa ya? Pertama, karena penasaran dicap sebagai orang filipina, aku langsung berselancar di internet. Akhirnya, dari beberapa ...

Lha kan kamu yang bilang

Kamu bilang aku liar Kamu juga bilang aku tak pantas menjadi liar karena wujudku. Terserah aku to, duniaku tak terbatas pada fisik. Bahkan kadang aku birahi pada isi otak. Kalau kamu membatasi diri pada yang berwujud, Itu juga terserah kamu. Kalau kamu anggap aku aneh, Mungkin kamu adalah pemilik dunia  Yang serba biasanya. Lha aku gak mau jadi biasa.

Cerita tentang si Ibu 3 Bulan

Dia adalah sebuah ibu, tempat semua orang mengadu nasibnya. Bukan, bukan ibu kandung. Ini adalah ibu kota sebuah negara berkembang tempat aku dan kamu dilahirkan. Ya, ini tentang Jakarta si megapolitan yang selalu panas dan tersorot. Tidak pernah terbayangkan olehku, seorang gadis dari tanah keraton singgah di Jakarta, kota yang menawarkan hingar bingar kemewahan. Terhitung, hanya enam kali aku sempat mengunjungi Jakarta selama-dua-puluh-satu-tahun hidup. Ini kali yang ketujuh, dan terlama – tiga bulan. Bukan dengan maksud memenuhi kota ini, namun ada pengalaman yang harus kutemui setelah janjian sejak bulan November tahun lalu (re: November 2016) Untungnya, aku tidak harus sendirian merasa asing menghadapi si Ibu Kota. Ada si teman seperjuangan, si teman mengeluh lelah setiap malam Elisabeth Novita. Ada juga si teman menikmati sudut gedung-gedung raksasa yang penuh merk di Jakarta, Imel, Dia, Sara. Ada juga si teman yang sama-sama mengeluh betap kumuhnya pemukiman padat yang seri...

Surat untukmu

Untuk kamu, Yang membuatku percaya diri Untuk kamu, Yang menawarkan kenyamanan Untuk kamu, Yang lebih memilih menerimaku saat yang lain menolak Untuk kamu, Yang selalu menawarkan kehangatan Untuk kamu, Yang dengan murah hati membuka tangan supaya bisa ku peluk Untuk kamu, Yang selalu menawarkan buncah kesenangan Untuk kamu, Yang memilih tertawa saat diganggu  Untuk kamu, Yang senang berdiskusi  Untuk kamu, Yang memilih berkarya tanpa unjuk diri Untuk kamu, Yang dikepung gelap setiap hari Untuk kamu, Untuk kamu, Kamu, Lebih dari yang tertulis.