Postingan

Gimana Rasanya Magang di Tempo Media Group?

Udara Jogja yang lagi panas, dan skripsi yang gak kelar-kelar bikin otak tiba-tiba kepikiran buat nulis tentang pengalaman magang jadi jurnalis politik di Tempo, tahun 2017 lalu. Menurutku, pengalaman magang selama tiga bulan ini bisa buat bekal kalau besok bener-bener mau terjun jadi jurnalis, terutama di Jakarta yang gak pernah sepi. Oh ya, mungkin aku bakal pake bahasa yang gak formal-formal amat ya, biar gak spaneng bacanya. Kok bisa sih magang di Tempo? Iya, jadi waktu itu ada program wajib dari kampus yang membuat mahasiswanya harus magang sebelum terjebak di dunia skripsi. Magang ini gak Cuma magang aja terus udah selesai. Enggak saudara-saudara. Prosesnya harus bikin proposal dengan judul apa yang mau diteliti saat magang, lalu berangkat magang, dan terakhir membuat laporan magang atau Kuliah Kerja Lapangan (KKL). Waktu magang di Tempo, sebenarnya aku mengincar posisi membantu jurnalis investigasi di Tempo. Namun, kebijakan dari Tempo, investigasi gak bisa diambil o...

Menikmati Kereta Ekonomi Rasa Eksekutif

Gambar
Mau ke Jakarta tapi budget sedikit, dan malas duluan membayangkan kereta ekonomi yang bikin punggung sakit, ruang kaki sempit dan ac yang kadang ada tapi tak terasa, kereta yang satu ini jadi salah satu penyelamatnya. Kepergian yang mendadak tentunya tidak memberi ruang untuk menabung. Duit seadanya, modal prinsip ‘yang penting bisa hidup’ pasti bikin pusing kepala. Cari harga kereta, mentok cuma bisa ekonomi. Aduh, tapi kereta ekonomi cukup menyiksa badan ya. Untungnya, berjam-jam bertamu di website ini itu akhirnya menemukan Jayakarta Premium, berangkat pukul 20.37 dari Stasiun Tugu, dan harganya cuma 180 ribu rupiah. “loh kelas ekonomi kok berangkatnya dari Tugu ya?” Di Jogja, ada dua stasiun yang aktif, Tugu dan Lempuyangan. Apa bedanya? Semua kelas ekonomi turun dan berangkat di Stasiun Lempuyangan, sedangkan bisnis dan eksekutif di Stasiun Tugu. Mirip di Jakarta lah ya, Pasar Senen dan Gambir. Nah, curiga dong kelas ekonomi ini bakalan beda dari biasanya. ...

Part-time di Singapura? Ini nih ceritanya..

Gambar
Hai, cerita kali ini aku berencana membawa kalian ke Singapura. Negara tetangga yang kecil namun luar biasa kaya. Biasanya masyarakat kita pergi ke Singapura untuk belanja barang-barang dengan merk terkenal, yang harganya juga mahal. Berbeda dari itu, aku datang ke negara ini untuk bekerja. Yap, tahun 2015 aku berkesempatan untuk bekerja paruh waktu di Singapura. Nah, aku ingin membagikan pengalamanku bekerja di sana. Mencari lowongan kerja part-time Beruntungnya, aku memiliki saudara yang sudah lebih dulu tinggal dan bekerja di Singapura. Saudaraku ini berkewarganegaraan Indonesia dengan status Landed Permanent Resident (LPR). Dengan status itu, dia secara legal bisa bekerja di Singapura dan tinggal di sana. Biasanya masa berlaku sekitar satu sampai dua tahun (tergantung update dari pemerintah sana ya), setelahnya bisa ganti status menjadi Permanent Resident (PR). Nah, saudara ku ini bergabung dalam salah satu forum online yang isinya orang Indonesia yang bekerja atau sekolah...

Ada Ketenangan, Ketegaran dan Ketulusan di 2017 mu!

Nikmati setiap suasananya... Hai, 2017 segera berakhir. 365 hari yang kamu lalui juga akan segera berakhir. Sepertinya kamu perlu kilas balik apa yang kamu dapatkan di tahun ini ya, Ye. Ada empat tempat yang menyimpan banyak kisahmu, tapi akan ku bagi menjadi tiga babak. Ketapang, menenangkan. Awal tahun 2017 ini Ketapang jadi rumah ternyamanmu membuka tahun. Melalui jalanan tanah merah, bukit hijau, air jernih, dan matahari yang terik, banyak cerita yang kamu dapatkan. Mulai dari nasihat seorang pastur tua yang sangat menyayangimu, hingga kedua temanmu yang tinggal satu bulan denganmu. Pastur tua itu kau panggil Romo Budi, dia memahami bagaimana kisah hidupmu. Ya tiap kamu dibonceng Romo Budi, tiap jalanan yang sepi, ada curahan hatimu tentang hidup. Ada kamu yang bisa bercerita dengan orang yang jauh lebih tua, itu tak biasanya seperti dirimu. Banyak nasehat dari Romo Budi, tapi hanya satu yang kamu ingat “kamu orang baik, pasti jalanmu baik” ungkapnya. Kalimat yang menjad...

Cerita

Ini sebuah cerita tentang kekasihku, yang hilang. Dia sudah hilang digilas putaran waktu. Meski hanya singkat, setidaknya sudah tiga kali tanggal empat belas ku lewati bersamanya. Meski sudah ratusan kali ku sebut namanya dalam doa, Awaknya hanya ada dalam bayangku saat ini. Aku tidak pernah menyesal pernah menyentuhnya secara nyata. Meminta semesta mendukung. Kisahnya yang selalu menemani dalam deru hujan dan dingin malam, jadi cerita pendek menyenangkan dalam koleksiku. Badannya yang menjulang tinggi, Harumnya yang sering kubaui di ketiaknya, Ucapnya yang selalu menjadi obat penenang dan candu, Biar tetap abadi dalam rasa. Sudah dua kali aku memintanya untuk tinggal, Aku lupa dia punya hasrat. Aku lupa dia bukan benda mati. Dia pergi ke Jakarta, dan tak mau ikuti ku ke Bali. Rupanya, hanya hangatnya yang masih menjagaku. Ini cerita yang akan terus ku ulang, meski nanti tak pernah ada dukungan.

PASTI

rindu itu pasti, bukan. bahkan sudah sejauh ini aku masih memiliki daftar nama orang orang itu masih sering ku pautkan pada objek yang ku lihat sengaja memang, supaya indah yang kita bangun bersama tetap terasa. sedih itu pasti, karena semua yang terus berjalan tidak bisa diulang. bahkan berkali kali ku bawa kendaraan ke tempat yang sama tetap saja beda yang terpandang. mengasihi juga pasti entah tanpa tahu alasannya, aku seperti dibentuk untuk tidak bisa membenci lama. sama seperti hujan, aku pernah membencinya tapi tetap saja aku menginginkan ada hujan. kehilangan, tentunya iya. apapun yang memiliki keinginan pasti akan hilang. sama seperti ayahku yang hilang sejak pahamku hanya tentang mendapatkan boneka saat ulangtahun dia hilang karena keinginannya. sama juga dengan dirimu. sekarang yang pasti, aku melangkah, kita melangkah. yang pasti, selalu ada waktu yang setia menemani. pergilah, menghilanglah, dan kembalilah sesuai keinginanmu. akan tetap ada buah yan...

Kekasih Hati

Teruntuk kekasih hati, Malam ini udara begitu dingin. Suasana juga tidak mendukung hati dan ragaku. Ibuku mendesak supaya skripsiku cepat selesai, tapi apa daya aku harus mengubah judulku lagi dan lagi dan lagi. Untung, aku bisa bertemu denganmu. Meskipun ada rasa canggung saat melihatmu. Ada rasa takut kamu akan membenci tingkahku yang menghampirimu. Ada buncahan bahagia, bahwa selama ini aku tidak menyadari bentuk perhatianmu pada hal-hal kecil. Kadang aku ingin seperti pasangan lain, bisa pamer kesana-kemari bahwa mereka adalah dua insan yang sedang jatuh cinta. Tapi, kamu selalu meminta untuk tidak demikian. Kamu meminta keintiman hanya milik berdua. Meskipun kita bukan kekasih. Hanya hati kita yang berkekasih. Maka tak ku sebut kamu kekasih, melainkan kekasih hati. Malam ini, kamu menjadi laki-laki biasa yang senang mengucapkan kata-kata manis, meskipun aku geli mendengarnya. Sangat tidak kamu. Tapi cukup menghibur disela-sela desakan skripsi yang baru saja akan aku mulai...