Teruntuk kekasih hati, Malam ini udara begitu dingin. Suasana juga tidak mendukung hati dan ragaku. Ibuku mendesak supaya skripsiku cepat selesai, tapi apa daya aku harus mengubah judulku lagi dan lagi dan lagi. Untung, aku bisa bertemu denganmu. Meskipun ada rasa canggung saat melihatmu. Ada rasa takut kamu akan membenci tingkahku yang menghampirimu. Ada buncahan bahagia, bahwa selama ini aku tidak menyadari bentuk perhatianmu pada hal-hal kecil. Kadang aku ingin seperti pasangan lain, bisa pamer kesana-kemari bahwa mereka adalah dua insan yang sedang jatuh cinta. Tapi, kamu selalu meminta untuk tidak demikian. Kamu meminta keintiman hanya milik berdua. Meskipun kita bukan kekasih. Hanya hati kita yang berkekasih. Maka tak ku sebut kamu kekasih, melainkan kekasih hati. Malam ini, kamu menjadi laki-laki biasa yang senang mengucapkan kata-kata manis, meskipun aku geli mendengarnya. Sangat tidak kamu. Tapi cukup menghibur disela-sela desakan skripsi yang baru saja akan aku mulai...
Untuk yang dekat tapi terasa jauh, ayah tercinta. Papa, hari ini dinobatkan sebagai hari ayah nasional. Aku merasa tidak ada yang spesial pada hari ini, Pa. Seharian aku malah sibuk memikirkan laki-laki lain, lupa bahwa seharusnya hari ini Papa berhak menjadi raja. Tapi Pa, apa daya sudah belasan tahun aku merasa kita tidak dekat. Rasanya ikatan batin ayah dan anak semakin pudar seiring detik jam yang semakin bertambah. Rumah kita yang terpisah semakin mendukung perasaanku bahwa kita tidak dekat. Hari ini aku melihat semua media sosial yang aku miliki. Teman-temanku mengunggah foto ayah mereka, memberikan ucapan manis tanda sayang dan berterimakasih. Aku iri pada mereka Pa. Foto berdua kita sudah hilang entah dimana, lagi pula aku merasa foto itu tidak merepresentasikan kehidupan kita pa. Selama kita berjumpa yang diperbincangkan hanyalah masalahmu Pa. Aku mencoba mengerti, bebanmu terlalu berat. Tapi Pa, kejauhan kita masih menyisakan rasa rindu dan kasih. Aku rindu kala sore har...
Sudah delapan belas kali aku melakukan selebrasi hari kelahiranku pada tanggal 11 januari. Sudah beribu-ribu pagi aku lalui untuk membuka mata sembari bersyukur ataupun mengeluh. Sudah beribu-ribu malam aku habiskan untuk menyapa bintang yang sedang bermain-main. Dan, sudah beratus-ratus orang aku temui, aku kenali, bahkan aku tinggalkan. Entah sudah berapa banyak pengalaman yang telah menciptakan prasasti. Aku masih ingat, bagaimana aku menangis ketika mama dan papa pergi, dan menitipkan aku pada kaken dan nenek. Saat itu hal yang menyedihkan adalah berharap mereka kembali dan membawa makanan atau mainan kesukaanku. Hal yang paling mengecewakan adalah mereka kembali tanpa makanan dan mainan untukku. Aku masih ingat, setiap hariku yangbaku pikirkan hanyalah bermain dengan boneka dan peralatan masak tiruan milikku. Berpura-pura menjadi seorang ibu yang menggendong anaknya kesana kemari berusaha membuatnya terlelap. Detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun pada akhirnya membuatku ...
Komentar
Posting Komentar