Postingan

Kalau Jogja adalah tempat timbul segala romantisme, Jakarta adalah tempat munculnya segala ketangguhan.

Ah, akhirnya sudah enam bulan di Jakarta. Menyusuri Barat, Selatan, Utara, dan Timur Jakarta dengan si revo biru yang tangguh. Meskipun terkadang rewel di saat yang tidak tepat. Tapi, berkat dia, aku punya tempat favorite di kota ini, yaitu duduk di atas revo, sambil berkendara, sambil menangis dan menahan marah.  Selama enam bulan sepertinya aku punya love-hate relationship dengan Jakarta dan jalanannya. Entah sepagi apapun keluar dari kos, dan semalam apapun pulang ke kos, pasti menemui setidaknya satu titik macet. Di saat macet ini, kadang timbul perasaan jengkel seperti ‘aku harus segera liputan ini’ atau ‘aku capek woi pengen cepet sampe kos dan rebahan’. Tapi satu hal yang aku sadari, semakin menggerutu dengan keadaan, aku semakin lelah. Akhirnya di saat macet ini, aku mencoba untuk lebih banyak menerima.  Oke macet. Nanti liputannya telat, ya sudah, salahku tidak dari awal perginya. Atau, ya sudah macet mau bagaimana lagi. Nikmati saja, bersyukur kamu sampa...

Di kursi

Satu kali lagi aku ke Jogja, untuk alasan yang sama. Duduk berhadapan denganmu, sambil menelan asap rokok. Menghabiskan satu bungkus kretek sambil menikmati ceritamu. Yang lalu, aku membawa sekantung bunga. Sayangnya, kali ini yang ku bawa adalah kesalahan. Satu kali lagi aku pulang, untuk menepati takdir, bahwa permulaan kita akan berakhir cepat. Menepati takdir bahwa, aku yang meremukkanmu. Menepati nubuat bahwa, aku akan selalu dianggap tak pernah tulus. Demikian, peranku dalam panggungmu. Satu kali lagi aku pulang, memberikan naskahku padamu. Supaya tahu sutradara menginginkanku jadi apa. Bahwa, lakonku jahat. Bahwa kita hanya sandiwara. Bahwa kenyataan, bisa ditemukan di balik panggung. Di kursi tempatku duduk, berhadapan denganmu.

Setipis Batas

Dalam batas waktu, jarak, dan perasaan Ada murka yang kian tumbuh Murka rindu yang terus tumbuh Tapi tertahan ademnya air yang meredam. Murka atas kasih yang kian menggapaimu Padahal nyatamu semu. Tak ada daging yang mampu ku sentuh, Tak ada aroma sedekat nafasku. Aku merindu untuk sukmamu. Aku bertahan untuk batasanmu. Aku membatasi untuk segala hal yang tak mampu dibendung. Terima kasih untuk tiga puluh hari memegang baraku. Makin lama, kita saling menyakiti. Semua karena batas. Mari terus menyakiti sampai rasa jadi tumpul. Kekasih, karena batas, kita tak pernah satu. Karena batas, kita saling memiliki tapi tak bisa mengikat. Kasih, aku mulai mencintai batas. Batas aku dan batasmu. Aku menyayangimu dalam segala sikap dan amarahku. Dalam segala sikap dan sabarmu.

Selamat tinggal

Lupa rasanya demikian sedih meninggalkan kota. Jogja dan rasa yang tertempel dalam sentuhan kulit. Ku tinggalkan dalam desahan sedih meski tanpa air mata Segala rasa yang tercipta saat ini, kita jalani dalam bentuk pesimis. Maka sudah, ku tinggalkan Jogja, dan ku siapkan untuk melepaskan asa pada raganya. Maka nanti melepas atau dilepas, meninggalkan atau ditinggalkan, akan selalu jadi bayang. Jogja, 13 September 2018, untuk laki-laki yang baru saja datang ke rumah.

Metamorfosa (4)

"Kenapa tak ada kabar darimu sepekan ini?" "Aku sibuk. Kamu tahu projectku" "Iya aku tahu. Nanti malam aku akan ke tempat biasa, ada pekerjaan. Mau menemani?" "Tidak bisa, aku punya janji lain dengan temanku" "Baiklah" Hubunganku dengan Danar akhir-akhir ini merenggang. Dia tahu aku akan marah apabila tidak ada kabar darinya. Satu pekan ini dia menghilang. Saat ini aku hanya butuh bertemu dengannya berdua saja. Sudah lelah rasanya. Sudah banyak perubahan dalam hidupku sejak bertemu Danar. Di tempat biasa aku menikmati pekerjaan, aku menunggu kejutan dari Danar. Tapi sepertinya harapan itu tak kunjung nyata. Akhirnya aku mengalah. Aku memintanya datang. "Aku sudah datang tapi kamu diam" Sulit buatku berkata. Mataku juga sudah memerah. Dan akhirnya aku hanya menatapnya tajam. "Bicaralah, aku bingung. Aku sedih tapi sekarang juga tak berguna. Hanya duduk di depanmu dan diam tanpa tahu masalahmu," ucap Danar. ...

Metamorfosa (3)

Danar Bagus adalah mahasiswa Hubungan Internasional semester akhir. Badannya atletis dan juga cukup manis. Kesukaannya tak jauh-jauh dari sejarah dan politik. Selera musiknya juga bagus. Bahkan banyak musisi dunia yang lintas generasi pun dia tahu. Kegemarannya pada hal-hal sosial politik turun dari ayahnya. Sebagai generasi muda, di balik kehebatannya, tentu dia menyimpan kekurangan. Emosinya labil, dan pemendam semua yang dia rasa. Sulit memahami laki-laki ini. Kepekaannya atas segala rasa di muka bumi membuatnya tak bebas juga berekspresi. Lelucon yang sering dia lontarkan bisa menjadi dua sisi mata uang dengan rasa yang di pendam. “Aku tahu kamu sedang kesal denganku, tapi lebih baik aku diam,” ungkapnya saat aku benar-benar jengkel padanya. Dia tahu aku sedang tidak dalam kondisi baik, tapi dia tetap mendiamkan aku dan memilih tertawa bersama temannya. “Lalu kenapa kamu diam? Kamu tahu aku resah, malah kamu membuatku yang merasa bersalah” “Apa kamu mau kita berdua terlih...

Metamorfosa (2)

Kisah ini bermula dari kepanitiaan. Dia menjadi salah satu panitia di acara yang ku buat. Beberapa kali rapat, batang hidungnya tak nampak menonjol. Mengetahui namanya pun tidak. Meski banyak teman-teman panitia yang sudah mengenal dia. Sampai suatu sore, di gelanggang olah raga, kami tiba bersamaan. Sebagai bentuk tata krama di kota kami, ku sapa dia dengan senyum tipis. Tapi anak ini tiba-tiba membuka tangan menyambut pelukan. Baiklah pikirku, pelukan adalah hal biasa yang ku lakukan pada setiap teman pria yang sudah akrab denganku. “Kenapa bingung?” tanyanya yang melihat kekagetanku. Beraninya dia, belum mengenal, sudah berani bertanya demikian, pikirku. Memeluk bukan persoalan besar. Sebab, lingkunganku pun terbiasa melakukan tradisi berpelukan antara perempuan dan laki-laki. Batasan agama atau gender bukan masalah besar, atas dasar sesama manusia yang saling mendukung dan mengasihi. Akhirnya tetap ku jawab dengan senyuman. Aku memang tak perna suka basa-basi apalagi pa...